If you love him, you will lose

we met in a morning
then you’ve just moved to the side of my house
I did have long been watching you
but this time we can meet directly

I became acquainted with you
I never thought we could be very close with you
I spend my days are always with you
I’m happy to be with you

you take me to the world that I’d never known before
you really understand me better than I know myself
you make my days be colored
You always can give me wonderful surprises

oh I feel I’m starting to like you
I feel great vibrations in my heart every i’m around you
but I always ignore
I do not want to admit that I love

ooo .. why did you come when I want to forget the love ??
why did you come with bringing love and hope are not sure?
I know I’m doing this is painful
but I realized that I would be more painful to admit it …

finally… at the moment I can not take it with feelings
I went to see you and want to say what I think
but I see you together a girl
you say that the girl was your lover

ooo .. why did you come when I want to forget the love ??
why did you come with bringing love and hope are not sure?
and finally I realized that love someone then I will lose..
lost by feelings…

sebelum membaca ceritanya saya sarankan untuk membaca liriknya walau gak ada lagunya karna ini original buatan saya sendiri.  saya berharap ada org baik hati yang mau membuatkan aransemen untuk lagunya dari lirik ini dan menyanyikan dengan suara yang merdu *plak*

silahkan membaca :3

0257fd7152a8eea4f7765cd136df668d


‘kalau kau mencintai seseorang maka kau akan kalah.’ Itulah kata-kata yang sering terngiang-ngiang dalam benakku setelah aku membaca sebuah buku klasik. Dan baru kusadari sepertinya kata-kata itu benar adanya.

***

Aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu saat keluarga mereka baru saja pindah ke sebelah rumahku. “aw..” rintihku yang merasa kesakitan saat tanpa sengaja dia menabrakku di depan rumahnya dengan sepeda. Mungkin terdengar kalau dia yang salah, tapi sebenarnya akulah yang salah karna berjalan tidak memperhatikan dengan baik.

“maafkan aku, kau tidak apa-apa?”

Aku menggeleng lalu menatapnya. “aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.” sebenarnya itu hanya alasanku saja agar bisa berbicara denganku. aku memang telah lama memperhatikannya semenjak dia baru saja pindah ke sebelah rumahku.

“aku memang baru saja pindah kemari.” Katanya sambil menunjuk rumahnya. “aku Kei, aku tahu kalau kau tinggal di sebelah rumahku, tapi baru kali ini kita bertemu secara langsung.” Katanya sambil mengulurkan tangan.

Iklan

I will always love you (私はいつも彼を愛してます )

9c88392095bfa97962d63ae1cb1e3d2d
Aku berjalan sendirian di koridor rumah sakit sambil mendorong tiang botol infusku. Aku habis berjalan-jalan keliling rumah sakit ini, aku bosan seharian berada di ranjang membuat tubuhku mati rasa. Tinggal beberapa langkah menuju kamarku, kulihat di depan pintu masuk kamarku telah berdiri seorang pemuda tampan dengan badan yang sempurna untuk ukuran pria dan dengan rambut hitamnya yang legam juga wajah orientalnya yang memikat yang menandakan dia adalah pemuda asia. Dia adalah pria yang paling kucintai di seluruh dunia. Pria itu membawa sebuket bunga kecil yang di bungkus plastik dengan pot yang juga kecil di tangannya. Aku tersenyum melihatnya.
“Kau datang untuk menjengukku, Nathan?” tanyaku riang sambil berjalan memasuki kamar inapku.
“ini untukmu.” Katanya dingin sambil menyerahkan bunga anemone yang tadi di pegangnya kepadaku. “ibuku menyuruhku datang kemari.” Aku mengambil bunga itu sambil menciumi baunya. Ya, aku memang paling suka bunga anemone. “kau suka?”
“tentu saja… ini bunga kesukaanku.” Kataku girang.
“syukurlah kau suka.”
Aku terdiam. “apa kau yang memilihkan bunga ini untukku?” aku tidak menyangka dia akan memilihkan bunga ini untukku.
dia tidak menjawab pertanyaanku tadi.“Sebaiknya bunga ini ditaruh di vas bunga.” Dia buru-buru kembali mengambil bunga itu dari tanganku dan masuk ke dalam kamarku. Aku berjalan mengikutinya dan duduk di sisi ranjangku.
Apa dia mengingat bunga kesukaanku? Padahal itu sudah lama sekali. Aku teringat saat kami melewati toko bunga saat study tur aku mengatakan padanya bahwa aku suka bunga yang terpampang cantik di etalase toko itu. Kala itu dia terlihat cuek dan seperti tidak mendengarkan apa yang kukatakan.
“uhuk… uhuk…” aku terbatuk-batuk.. rasanya seluruh badanku terasa sakit dan sangat lemas.
“Vinnia… kau tidak apa-apa?” kulihat Nathan tampak panik dan seketika memegang tubuhku yang hampir pingsan dan kesakitan. Dengan cekatan dia memencet tombol darurat agar para dokter datang. Tidak lama kemudian datanglah dokter dengan para perawat ke ruanganku. Mereka memasukkan beberapa selang dan menusukkan beberapa jarum ke tubuhku, sebelum aku kehilangan kesadaran akibat suntikan bius oleh dokter aku melihat Nathan yang masih berdiri di ambang pintu. Aku berharap dia tidak pergi meninggalkanku. Lalu aku pun kehilangan kesadaran.
“kau sudah bangun?” suara Nathan membuatku benar-benar terjaga.
“kau masih disini?” ujarku lemah. Reflek aku tersenyum ke arahnya karna aku bahagia dia masih di sini menungguku. Aku melihat jam, sudah jam 3. Berarti aku pingsan selama 5 jam. Apa Nathan menunggu selama itu?
“apa masih sakit?” tanya Nathan dengan nada khawatir. Kali ini suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
“tidak…” aku berusaha menggeleng dan tersenyum agar dia tidak khawatir, walau sebenarnya kebalikannya. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Aku tidak ingin dia mengasihani diriku.
“sudahlah… jangan bohong. Aku tahu kau merasa sangat kesakitan, aku juga melihat kau menangis sambil menatapku saat para dokter dan perawat itu menyuntikmu.”
Nathan menyadarinya! Apakah karna itu dia tidak meninggalkanku sendirian disini? Apakah karna itu dia masih disini menungguku bangun? Mendengar semua kata-katanya aku tak tahan lagi untuk menyembunyikannya. “ya… aku merasa sangat sakit… rasanya sekujur tubuhku ini di tusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan… benar-benar menyakitkan rasanya.” Kataku terisak.
Nathan memegang kepalaku dan mengusapnya dengan lembut. Ajaib, tangisanku menjadi terhenti hanya dengan sentuhan tangan Nathan di kepalaku. “kau harus berjuang. Aku yakin kau akan segera sembuh dan dapat berkumpul bersama teman-temanmu.” Katanya dengan tersenyum lembut. Aku terpana dibuatnya, tak kusangka Nathan bisa tersenyum seperti ini dan itu ditujukan kepadaku.
Menyadari ekspresiku yang cukup tercengang melihat sikapnya, dia pun kembali memasang wajah dingin dan buru-buru pamit pulang kepadaku. “aku pulang dulu.” Katanya sambil seraya bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu.
“Nathan….” dia berhenti lalu menoleh ke arahku. “terima kasih karna kau telah mau menjengukku. Jujur, aku sangat kesepian disini. Apa besok kau akan kesini lagi?” pintaku padanya. Aku berharap dia akan kembali menemaniku besok.
“ya.” Ujarnya singkat. Aku tersenyum bahagia. Aku harap aku telah selangkah lebih maju untuk meluluhkan hati dinginnya yang bagaikan es itu.

***

Aku berjalan di lorong sebuah rumah sakit sambil membawa sebuah buket kecil bunga anemone. Aku juga tidak mengerti kenapa aku membeli bunga ini, apalagi untuk menjenguk orang yang sakit. Tapi sewaktu akan membeli bunga tanganku reflek menunjuk buket yang terpampang di toko bunga itu. Akhirnya aku sampai juga di sebuah kamar yang berada di rumah sakit ini dengan pintu yang terpampang sebuah nama yaitu ‘Vinnia Aquilyra.’ Aku melongokkan kepalaku ke sebuah kaca di pintu itu untuk melihat keadaan yang ada di kamar itu. Tapi kamar itu begitu sepi. Sepertinya tidak ada orang. Pikirku.
Lalu aku memalingkan wajah ke arah lorong yang menjurus dengan lorong yang kulalui tadi. Tampak seorang gadis berjalan pelan sambil mendorong tongkat infusnya. Gadis itu memakai pakaian piyama berwarna pink yang dimiliki oleh rumah sakit ini. Gadis itu memiliki tubuh yang kecil, dengan rambut pendek sebahu. Awalnya dia tidak menyadari kedatanganku, tapi setelah cukup dekat jaraknya denganku dia pun tersenyum girang ke padaku. “apa kau datang untuk menjengukku?” katanya dengan mata berbinar-binar. Dia tampak seperti anak anjing yang baru saja dapat tulang, cuma bedanya lidahnya tidak terjulur keluar dan dia tidak menggonggong.
Semua orang mengatakan bahwa gadis ini adalah pacarku, orang tuaku juga selalu menyuruhku untuk memperlakukannya dengan baik. Tapi aku merasa aku bukan tipe orang yang mau pacaran dengan gadis macam dia. Aku teringat di sekolah dia selalu saja mengejarku, mengikutiku kemanapun aku berada. Dia juga lemah, sering kali dia pingsan di sekolah, tapi tak kusangka dia akan tumbang dan berakhir di rumah sakit, tapi aku lihat sepertinya dia sudah baik-baik saja, itu terbukti kalau dia sudah berjalan-jalan keluar kamarnya apalagi tersenyum seperti itu saat melihatku.
“ini untukmu.” Kataku dingin sambil menyerahkan bunga yang dari tadi aku pegang kepadanya “ibuku menyuruhku datang kemari.” Alasanku agar dia tidak merasa kege-eran. Dia mengambil bunga itu sambil menciumi baunya. Sepertinya dia menyukainya. “apa kau suka?”
“tentu saja… ini bunga kesukaanku.”
Ternyata aku tidak salah pilih. “syukurlah kau suka.”
“apa kau yang memilihkan bunga ini untukku?” aku terdiam. Kenapa dia mengetahuinya? “lebih baik aku meletakkan bunga ini di tempat yang terkena matahari.” Kataku sambil mengambil bunga itu dari tangannya dan mencari tempat yang bagus untuk meletakkan bunga itu. Aku tidak ingin dia mengetahui bahwa aku sendiri yang memilih bunga itu untuknya.
“uhuk… uhuk… ukh…” kudengar dia terbatuk-batuk dan mengerang kesakitan, dengan cepat aku membalikkan badanku dan memegang kedua bahunya.
“Vinnia… kau tidak apa-apa?” tanyaku panik Dengan cepat aku menekan tombol darurat agar dokter datang. Tidak lama kemudian datanglah dokter dengan para perawat ke ruangannya. Aku merasa sedikit kasihan padanya. Dia terlihat sangat menderita. Aku terdiam melihatnya di ambang pintu. Dia masih mengerang kesakitan sambil menangis. Seorang dokter menyuntikkan obat bius padanya agar dia bisa segera tertidur, obat bius itu sepertinya berhasil bekerja dengan cepat. Tapi sebelum dia tertidur dia melihat ke arahku, masih dengan keadaan menangis dia menatapku, dia terlihat meminta tolong kepadaku, lalu tidak beberapa lama dia pun tertidur.
Aku terdiam, cukup lama aku mematung di tempatku. Apa dia sebegitu menderitanya? Apakah rasanya benar-benar sakit? Kali ini aku benar-benar merasa kasihan pada gadis berwajah mungil yang sedang di pasangi selang di hidungnya. Aku berjalan ke arahnya, duduk dikursi yang berada di samping ranjangnya dan memperhatikan wajahnya yang pucat saat tertidur.
Saat itu aku baru menyadari betapa manisnya gadis ini. Wajahnya terlihat sangat damai dan polos saat tertidur. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Kembali aku teringat saat pertama kali aku masuk ke sekolah itu, dia selalu saja menempel padaku sehingga membuatku jengkel dan kesal, tapi aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya sedekat ini seperti sekarang. Mungkin benar kata ibu, aku harus lebih memperhatikannya. Kembali aku merasa iba padanya.
1 jam, 2 jam, akhirnya 5 jam pun berlalu aku tak beranjak dari tempat dudukku. Yang aku lakukan hanya melihat wajah manis dan polos gadis ini saat tertidur. Kadang aku bertanya-tanya apa yang dimimpikannya? Apakah dia bermimpi yang bagus? Kuharap begitu agar penderitaannya tidak semakin bertambah.
Kulihat matanya sedikit bergerak, sepertinya dia akan bangun. “kau sudah bangun?”
“kau masih disini?” ujarnya pelan dan tampak lemah. Tapi dia masih sempat-sempatnya tersenyum ke arahku.
“apa masih sakit?” tanyaku lembut.
“tidak…” katanya sambil menggeleng dan tersenyum. Aku tahu senyumnya kali ini di paksakan untukku
“sudahlah… jangan bohong. Aku tahu kau merasa sangat kesakitan, aku juga melihat kau menangis sambil menatapku saat para dokter dan perawat itu menyuntikmu.”
Kulihat raut wajahnya mulai berubah dan dia pun perlahan mulai menangis. “ya… aku merasa sangat sakit… rasanya sekujur tubuhku ini di tusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan… benar-benar menyakitkan rasanya.”
Sesakit itukah? Sangat kasihan sekali. aku mengusap kepanya dengan lembut. Aku berusaha menguatkannya. Tiba-tiba saja dia berhenti menangis. “kau harus berjuang. Aku yakin kau akan segera sembuh dan dapat berkumpul bersama teman-temanmu.” Kataku lagi sambil tersenyum lembut padanya. Aku tersadar dia masih tercengang ke arahku, mungkin dia heran sikapku berubah drastis padanya. Lalu aku buru-buru pulang sambil bangkit dan berjalan ke arah pintu. “aku pulang dulu.”
“Nathan….” panggilnya lemah. aku berhenti lalu menoleh ke arahnya. “apa besok kau akan kesini lagi?” kali ini dia sangat menggemaskan, aku ingin tertawa oleh pertanyaan dan sikap polosnya itu.
“ya.” Ujarku. Dia tersenyum senang. Aku menolehkan kepalaku lagi dan melangkah pergi sambil tersenyum. Senyum tulus dan senang yang tidak pernah dilihatnya.

愛は手に入れるのは難しいです

5e3140891948783084f99b148b38187e

Aku selalu melihatnya dari jauh. Dia adalah seorang idola kampus dan idola semua orang. Aku tahu aku tidak dapat menjangkaunya, tapi aku tidak bisa menyerah untuk itu. Aku merasa aku bisa memilikinya walau kenyataanya berbanding terbalik dengan apa yang kuharapkan.

Aku tahu ini adalah kali kedua aku melakukan kesalahan saat mencintai seseorang. Pria -yang tak ingin kusebut namanya- yang kucintai selama kurang lebih 5 tahun pun tidak dapat kuraih, pria itu juga seorang idola sekolah juga dulu. Tapi tidak setenar dia. Tapi anehnya saat dia muncul aku sedikit melupakan pria itu.

Apakah ini takdir aku dipertemukan oleh seorang pangeran sehingga membuatku terlepas dari cinta tak terbalas selama beberapa tahun oleh tuhan? Aku berharap takdir itu benar. Aku berharap dia menjadi obat sakit hatiku yang terbelenggu oleh ketidak pastian cinta selama ini dan aku berharap dia menjadi kunci yang akan membukakan kurunganku selama bertahun-tahun. Kau tahu? Betapa sakitnya saat kau tidak bisa terlepas dari cinta masa lalumu walaupun sebenarnya kau bisa.

Hari ini pun dia dikelilingi gadis-gadis seperti biasa. Dan seperti biasa aku tidak bisa mendekatinya. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh sambil mencari tahu apapun tentang dirinya. Yah bisa dibilang aku merupakan stalkernya walaupun banyak gadis-gadis lain melakukan hal yang sama juga. Aku tidak tahu kenapa aku menjadi seperti ini. Tidak biasanya aku seperti ini oleh seorang pria yang bahkan –mungkin aku tidak pernah berbicara lama dengannya dan dia juga tidak mengenalku-.

Menjadi stalkernya aku mendapatkan banyak info tentangnya. Walau aku tak pernah mengenalnya secara langsung, tapi dengan mengetahui ini semua aku bisa merasa dekat dengannya.

Dari awal aku bilang kenapa aku merasa tidak bisa menyerah terhadap dirinya mungkin juga disebabkan karna aku telah memperoleh banyak data-data itu. Aku merasa aku mampu memahaminya dan mengerti apa yang dipikirkannya. Tanggal lahirku juga berdekatan dengannya, cuma beda 1 hari. Dan juga karna dia telah me-follow twitterku –walau memang aku yang memintanya karna kebetulan fans-fansnya sedang tidak ada-. Suatu hal konyol dan absurd kedengarannya memang. Tapi aku tak peduli, aku cukup merasa bahagia dengan itu. Aku juga telah 2 kali memimpikan dia. Sangat jarang sekali ada orang lain yang telah menggantikan posisi “pria itu” di mimpiku.

Aku juga melihat wajahnya yang ‘imut’ dan juga lumayan ‘cantik’ -untuk seukuran pria biasa- menurutku itu juga menambah point tersendiri. Aku berharap dia menyukai wanita seperi aku yang -secara fisik- memang terlihat seperti loli, begitulah tanggapan orang-orang saat pertama kali melihatku. Aku memang wanita yang di lahirkan memiliki tampang seperti anak-anak atau baby face. Walau aku sepenuhnya tidak menyukai fisikku yang seperti ini.

Dan terakhir kenapa aku percaya dia akan bias tertarik padaku? Entahlah, mungkin karna aku mempunyai ‘feel’ dan juga ‘chemistry’ yang kuat akan itu dan ‘feel’ itu sangat sedikit sekali persentasinya salah menurutku.

Sebenarnya aku iri pada wanita-wanita yang mempunyai gadged yang canggih. Jadi mereka bisa bercengkrama dengan leluasa bersamanya juga bisa lebih dekat dengannya dan mendapatkan info lebih banyak tentangnya. Aku hanya bisa mendapatkan info tentangnya dari teman-temannya yang menjadi fans beratnya.

Suatu hari aku berjalan sendirian di koridor kampus. Dia juga berjalan sendirian dan datang dari arah berlawanan. Jantungku berdegup kencang saat melihat dia yang mengenakan T-shirt merah maroon bertuliskan kalimat THEOXGN putih dan celana jeans hitam juga sepatu Reebook hitamnya.

“o-ohayou aga-kun.” Sapaku agak tergagap-gagap saat dia telah berada beberapa senti di depanku.

Dia hanya melirikku sambil tersenyum dan hanya menganggukkan kepalanya sambil berlalu. Lagi-lagi senyumannya itu benar-benar bisa membuatku menjadi seperti pudding yang meleleh akbiat di panaskan.

“Lagi-lagi responnya hanya begitu… kenapa cuma denganku saja dia seperti itu?” batinku kesal karna selalu saja dia bersikap begitu saat aku menyapanya. Memang sama gadis-gadis lain pun begitu, tapi kadang dia juga ngobrol dengan mereka, tapi kenapa aku tidak punya kesempatan seperti itu juga? Aku pun berbalik dan berteriak memanggil namanya. “aga-kun…” dia pun terkejut dan berbalik menoleh kearahku. “a-aku vioni.. un.. semoga kau dapat mengingat namaku.” Kataku sambil menunduk tak berani melihat wajahnya.

Dia diam, aku pun tak tahan dengan sikap diamnya itu lalu aku mendongak dan menatapnya. Kulihat dia tersenyum. “baiklah, aku akan mengingatnya. Senang berkenalan denganmu, vioni.” Lalu dia pun berbalik pergi.

Aku terperangah. Tak kusangka dia akan merespon kata-kataku tadi. Dan senyumannya itu… bisa di pastikan kalau aku merupakan sebuah pudding aku pasti akan melumer saat itu juga. Tapi aku tak menyangka kalau aku akan seberani itu berkata demikian padanya. Tanpa kusadari aku masih berdiri diam menatap kepergiannya dengan perasaan masih tidak percaya dengan apa yang kulakukan tadi.

Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya secara langsung. Aku juga kembali ke aktifitasku seperti biasa yaitu memperhatikan dia –yang selalu dikerubungi oleh gadis-gadis- dari jauh.

Aku membalikkan badanku, bersandar pada sebuah pohon yang dari tadi menjadi tempat persembunyianku untuk melihatnya. Aku mulai duduk di rerumputan masih dengan bersandar pada pohon itu dan membuka sketchbook ukuran A4 yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Aku merogoh saku celanaku dan mengambil sebuah pensil lalu aku mulai menggambar. Yeah ini merupakan kegiatanku yang lain selain memperhatikannya dari jauh.

Aku selalu menggambarnya dengan imajinasi-imajinasi yang berbeda setiap aku selesai melihat dan memperhatikannya.

Kali ini aku menggambarnya dengan efek beberapa bunga mawar di sekelilingnya. Kuakui aku memang mempunyai imajinasi yang berlebihan terhadap sesuatu yang kulihat apalagi saat aku menggambar. “gambar yang bagus. Apa itu aku?” aku kaget saat mendengar sebuah suara di dekatku. Aku langsung menoleh kebelakang, dan tak kusangka yang berbicara itu dirinya sambil melongokkan kepalanya menatap sketsaku dan berdiri di samping pohon tempat aku bersandar tadi.

Karna saking kagetnya aku langsung menghindar dan berdiri seketika menjatuhkan sketchbook dan juga pensilku. Dia lalu memungut benda-benda itu dan memberikannya padaku seraya berkata “kau harus lebih menghargai hasil karyamu sendiri.” Katanya padaku dengan tersenyum.

“aaa.. iya gomennasai” kataku sambil membungkuk dan menerima barang-barang yang dia pungut tadi.

“gambar yang bagus, apa aku boleh melihatnya?” katanya sambil menunjuk buku itu. aku terdiam, tak menyangka dia akan berkata begitu denganku.

“bu-bukannya kau tadi disana? Dengan para gadis-gadis itu?” aku menunjuk kearah tempat aku melihatnya sebelumnya sambil menoleh ke belakang. Dan kulihat tidak ada siapa-siapa disana.

“mereka sudah pergi.” Katanya lagi. “apa boleh aku duduk disini? Aku sedang tidak ada kuliah dan aku sedang bosan.” Katanya sambil duduk dan bersandar pada pohon itu.

“te-tentu saja boleh.” Kataku gugup.

“kenapa masih berdiri? Kau tak ingin menemaniku disini?” aku pun duduk disebelahnya sesuai perintahnya.

Dia menatap sketchbookku. Lalu secara refleks aku menyerahkan buku itu dengan kedua tanganku. “kore.” Kataku.

Dia menerimanya, lalu bertanya lagi padaku. “apa kau yakin? Sepertinya kau tidak ingin ada orang lain yang melihatnya.”

“tidak apa-apa, lihat saja.” Kataku pelan dengan kepala tertunduk. Sebenarnya benar apa yang dikatakannya, aku memang tidak ingin ada yang melihat gambarku. Apalagi yang melihat itu dirinya. Aku malu, aku takut aku akan di cap aneh dan juga maniak.

Tiba-tiba saja sesuatu terlintas dikepalaku sehingga aku ingin menanyakan padanya. “kenapa kau kesini? Apa kau tahu aku selalu melihatmu dari sini?” ups, aku keceplosan. Aku benar-benar bodoh.

“benarkah? Hahaha.. kau memang benar. Aku tahu kau selalu disana dan mengamatiku dari jauh sambil memeluk buku ini.” Katanya sambil terus melihat gambar-gambarku. Aku diam, kurasakan pipiku memanas. Kali ini aku benar-benar malu. “saat mereka pergi karna ingin masuk kelas, aku penasaran dengan gadis yang selalu bersembunyi disini, dan saat kulihat dari dekat ternyata dia sedang menggambar diriku.” Katanya lagi. Aku lagi-lagi diam tidak merespon kata-katanya karna sibuk dengan perasaanku sendiri.

“wah gambarmu bagus-bagus. Apa benar kau yang membuat semuanya? Kau hebat.. apa ini semua aku? Aku bahkan kelihatan lebih tampan disini. Hahaha” katanya. Aku menoleh ke arahnya. Kulihat dia bersemangat sekali saat melihat gambar-gambarku. Matanya begitu berbinar-binar. Aku harap dia senang saat melihatnya. Dan tanpa kusadari aku tersenyum melihatnya begitu.

Dia lalu menoleh ke arahku. “senyummu cantik.” Katanya. Aku lupa bahwa saat dia melihatku aku masih tersenyum ke arahnya. Tiba-tiba aku menolehkan wajah ke depan dan kusadari pipiku bersemu merah dibuatnya. “ini kukembalikan.” Katanya lagi sambil memberikan skecthbookku.

Aku menerima buku itu. “kau pasti akan mengira aku maniak kan?” tanpa sadar aku berkata begitu kepadanya.

“tidak, aku hanya menganggap kau itu sama dengan fans ku yang lain. Kau tahu, fans-fansku yang lain itu bahkan lebih gila darimu. Mereka bahkan sampai meneror rumahku……” dia mulai bercerita panjang tapi tidak terlalu kudengarkan. Aku hanya sibuk dengan pikiran-pikiran yang berkecamuk di dalam diriku.

“dan pada akhirnya dia hanya menganggapku sebagai penggemarnya saja. Hahaha… aku saja yang terlalu naïf sampai berharap dia akan melirikku dan berharap macam-macam. Ukh.. menyakitkan.” Aku menelungkupkan kepalaku pada kedua sisi lututku yang berdiri.

Dia menghenikan ceritanya karna melihatku seperi ini. “kau kenapa?” tanyanya dengan nada khawatir.
“tidak ada, aku hanya kepikiran sesatu.” Kataku sambil menoleh kearahnya sambil tersebyun dipaksakan. Lalu aku kembali menelungkupkan wajahku sambil menahan rasa sakit di dadaku. Kami sama-sama diam. Diam dalam waktu yang lumayan lama. Dan pada akhirnya aku pamit kepadanya bahwa aku akan masuk ke kelas.

Aku tidak jadi masuk ke kelas. Aku pergi ke taman belakang kampus yang terdapat sebuah kolam ikan dengan air mancur di tengahnya. Aku mendekati kolam itu, dan berdiri di tepian sembari melihat pantulan wajahku pada air yang beriak dengan ikan yang berenang di dalamnya. Aku menatap wajahku yang terlihat sembab akibat menangis. ‘seharusnya aku sudah tahu dari awal kalau aku akan tetap seperti ini. Percuma aku berusaha keras tapi pada akhirnya apa yang aku inginkan tidak pernah tercapai. Haaaahhhh… aku lelah jatuh cinta.’

SRAKK!!

Aku lalu membuang sketchbook yang dari tadi aku pegang ke dalam kolam itu. Lalu aku berjalan perlahan meninggalkan kolam itu sambil berusaha menahan tangisku. Aku tidak menyadari ada seseorang yang mengikutiku dari belakang.

Aku tidak cantik. Aku juga tidak manis. Jadi apa yang aku harapkan dengan pria-pria tampan itu agar mereka juga menyukaiku?

Aku memperhatikan diriku dari atas sampai bawah pada sebuah cermin besar yang tertempel di dinding kamarku. Aku hanyalah seorang gadis biasa yang terlalu percaya diri dan pada akhirnya merasakan sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan.

‘hahaha.. bodoh sekali. Lihat dirimu Vioni? Kau bahkan cuma seorang gadis pendek dengan wajah masih seperti anak-anak. Orang lain saja sering tertipu dengan dirimu. Bukan hanya wajah. Suara dan sifatmu juga seperti anak-anak. Apa yang kau banggakan dari dirimu yang menyedihkan ini? Sekarang lihat tampangmu, matamu sangat bengkak gara-gara menangisi nasibmu yang malang ini. Benar-benar seperti orang bodoh saja.’ Aku menepuk-nepukkan pipiku ke depan cermin berharap wajahku bisa kembali normal secepatnya dan tidak terus-terusan sembab seperti ini.

Pagi ini aku tidak bersemangat untuk ke kampus. Apalagi kalau sampai melihat wajahnya. Walau pun aku sudah memutuskan agar berhenti menyukainya tapi aku masih belum bisa merelakannya sepenuhnya. Aku juga takut kalau aku berhenti menyukainya berarti aku akan kembali terbelenggu oleh cintaku yang bertepuk sebelah tangan dengan “pria” itu lagi.

“aku tidak bisa terus begini.” Kataku sendirian sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku tidak menghiraukan pandangan-pandangan aneh orang-orang di sekelilingku. Aku tetap saja fokus memikirkan perasaanku sekarang. Aku tidak ingin kembali mencintai “pria itu” dan masuk kembali ke dalam penjaranya yang sudah susah payah aku usahakan agar bisa keluar. Tapi… sekarang aku sudah tidak mempunyai kunci penjara itu. “Apa yang harus kulakukan?”

“Kau tak harus melakukan apa-apa. Yang harus kau lakukan adalah mengambil ini.” Aku menoleh mendengar datangnya arah suara. Kulihat dia telah berdiri disana dengan sesuatu yang sangat aku kenal sekali di tangannya. ‘buku itu…. Kenapa bisa ada di tangannya?’

“apa kau menjatuhkan buku ini? Aku telah berusaha mengeringkannya, tapi sayang sekali gambarnya jadi rusak.”

Aku menunduk, lalu membalikkan badanku. Aku tak ingin memandangnya lagi. “aku sudah membuangnya.”
“eh? Kenapa?” tanyanya bingung.

Aku tak menjawab, aku langsung berlari begitu saja meninggalkannya. ‘sudah… berakhir sudah… aku akan berusaha melupakannya.’

Aku duduk bersandar dengan menjulurkan kaki-kakiku pada pohon sakura besar seperti yang biasa aku lakukan saat selesai menguntitnya. Tapi sekarang berbeda, aku tidak lagi menguntitnya dan tidak ada buku kecil ukuran A4 yang selalu kubawa-bawa. Aku mengeluarkan ipod dari dalam tas ku dan memasangkannya pada ponsel yang sedari tadi aku pegang. Aku menekan tombol play pada lagu ONE OK ROCK yang berjudul notes‘n’words. Aku mulai memejamkan mataku sambil mendengarkan alunan lagu dari headset yang terpasang di telingaku.

Mendengar lagu ini lagi-lagi membuatku teringat dengannya. Aku tahu dia sangat menyukai lagu ini tapi apa boleh buat, aku juga menyukai lagu ini. Aku terus memejamkan mata dan menyanyikan lagu yang mengalun di telingaku sambil merasakan semilir angin lembut yang menjalar di seluruh tubuhku.

“another song for you… about your love~” aku lalu menghentikan nyanyianku. Ternyata bukan cuma aku saja yang menyanyikan lagu itu. Aku membuka mataku untuk melihat siapa yang ikutan bernyanyi denganku. Betapa kagetnya aku ternyata yang menyanyi itu adalah dirinya. Dia duduk sambil berjongkok di depanku.

“ternyata suaramu bagus. aku juga suka lagu itu.” Katanya sambil tersenyum membuatku jadi sedikit salah tingkah.

‘Tentu saja aku tahu kalau kau juga menyukai lagu itu, aku kan tahu semua tentangmu.’ batinku agak bangga. “ma-makasih.” Kataku malu.

Dia pun duduk begitu saja di sebelahku tanpa permisi. “kau benar-benar punya banyak bakat.” Aku cuma diam saja mendengar dia berbicara seperti itu. “kau bisa menggambar dan suaramu bagus. Apa cita-citamu?”

“hmmm? aku tidak tahu… aku cuma mengikuti alur hidupku.” kataku bingung sambil sedikit merenung.

“hahaha.. tidak apa-apa. Kau kan bisa memikirkannya kapan-kapan. Masa depanmu masih panjang.” Aku tidak mengerti maksud ucapannya yang ini.

“apa maksudmu?” tanyaku bingung sambil menoleh padanya.

“yah, kau kan masih kecil, jadi tidak usah terlalu terburu-buru untuk menentukan masa depan.” Katanya lagi sambil tersenyum padaku.

“kenapa kau bicara begitu? Dan lagi kenapa kau bilang aku masih kecil? Kita kan seumuran.” Kataku ketus dan sedikit emosi padanya.

“eh? Benarkah?” katanya kaget. Tatapan matanya menyiratkan kalau dia menganggapku berbohong. Aku cuma diam sambil memalingkan muka. Disitu dia baru menyadari kalau aku berkata jujur dan aku marah terhadap anggapannya terhadapku selama ini. “maafkan aku.” Katanya tulus.

“memangnya selama ini kau menganggapku sebagai apa?” kataku dengan nada jengkel.

“kukira kau hanyalah seorang gadis yang sering berkeliaran disini apalagi sekolah lagi libur.” Aku tidak suka mendengar jawabannya itu. “maafkan aku.” Katanya lagi.

“sudahlah tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dianggap seperti itu oleh orang-orang. Lagian aku juga menyadari kalau tampilanku juga seperti anak-anak.” Aku merapikan rambut ikalku yang tertiup angin. Aku tidak pernah mengikatnya, makanya aku sering dikira anak kecil.

Setelah cukup lama hening dan suasana berubah menjadi sedikit kaku dia pun mulai bersuara lagi. “oh iya, ini.” Dia memberikan sketchbookku lagi.

“aku tidak membutuhkannya.”

“kenapa?” Lagi-lagi aku tidak menjawab. “kenapa kau tidak menghargai hasil karyamu.?” Aku tertohok mendengar jawabannya itu.

“kau tidak akan mengerti.” Kataku pendek.

“kalau kau tidak menjelaskan aku tidak akan mengerti.”

Aku bingung dan juga menimbang-nimbang tentang apa yang akan aku jelaskan padnaya. Apalagi tentang mengatakan perasaanku. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk mengatakannya, dan aku juga merasa sudah tidak ada harapan lagi, jadi untuk apa disimpan bukan? Lagian menurutku semuanya telah berakhir sudah.

“anata ga daisuki desu.” Aku mengatakan perasaanku dengan menggunakan bahasa jepang. Aku harap dia tidak mengerti. Yah aku akui aku memang pengecut dalam hal ini.

“hontou ga?” aku menoleh padanya. Tidak percaya apa yang aku dengar. Ternyata dia mengerti apa kata-kataku.

“a-aku…” aku tergagap menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Kali ini aku tahu wajahku akan merah padam karenanya. Akhirnya karna sudah tidak tahan lagi akupun menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. “i-iya… aku sudah lama menyukaimu. Aku cuma bisa memperhatikanmu dari jauh. Lalu setelah itu aku melukismu di dalam buku itu. Itu hal yang selalu kulakukan.” Kataku lagi. Kali ini aku telah bisa berbicara dengan lancar di depannya. Walau aku sadari aku benar-benar malu.

Dia diam mendengar kata-kataku itu. Tapi aku tak peduli. Aku terus melanjutkan penjelasanku padanya. “saat kau bilang kalau kau menganggapku hanya sebagai penggemarmu, saat itu juga aku menyadari kalau kau orang yang begitu sulit kujangkau. Aku merasa bayanganmu semakin lama semakin jauh sekeras apapun aku berusaha untuk mengejarnya.”

“lalu setelah itu kau pasrah dan berhenti menyukaiku?” Tepat. Dia tepat sekali menganalisanya. Aku hanya mengangguk pelan. “apa kau yakin?” tanyanya lagi.

Aku menoleh tidak mengerti pada pertanyaannya. “jujur, aku juga tidak yakin. Tapi aku akan berusaha karna kau benar-benar tidak mungkin buat kugapai.”

Dia memegang bahuku memaksaku agar aku dapat menatapnya. “bagaimana bila aku berbalik dan berdiri di hadapanmu? Apa yang akan kau lakukan?” katanya dengan tatapan tajam.

“ma-maksudmu? Apa kau akan menerima cintaku.”

Dia tersenyum sambil memberikan buku itu dengan kedua tangannya kepadaku. “tolong beri aku waktu untuk bisa mengenalmu lebih jauh.”

Tuhan…
Apakah dia yang kau takdirkan untukku sebagai pengganti dari “pria itu” di hidupku?
Kali ini aku bahagia sekali karna aku akan benar-benar terlepas dari kurunganku.
Dia benar-benar pangeranku, penyelamat jiwaku.
Tolong berikan yang terbaik untuk kami berdua.

Aku pun tersenyum bahagia dan menerima buku itu sambil mendekapnya di dadaku.
Sudah kubilang bukan? Mungkin kali ini Feelingku memang tepat.

farewell song [cast]

– Tatsuya matsumoto = taa kun
Umur 16 tahun, memiliki sifat pendiam dan cool. Dan menjadi idola gadis-gadis disekolahnya. Bahkan gadis–gadis itu membuat fansclub untuknya. Semenjak ayahnya lari dari rumah dia menjadi lebih tertutup dan agak berandal. Tapi itu tidak membuat fansnya berkurang, justru kebalikannya, fansnya bertambah banyak karna dia terlihat lebih keren dimata fansnya. Dia sudah menyukai chaterine saat pertama kali bertemu, tapi perasaan itu belum disadarinya.

– Chaterine fuzisawa = chaterine
Gadis keturunan inggris-jepang ini menderita penyakit leukemia, sangat menyukai piano dan memiliki bakat yang sangat besar. Namun keinginan untuk menjadi pianis selalu ditentang oleh orang tuanya. Sangat feminim, dan juga tidak memiliki teman karna penyakitnya. Dia sangat senang bertemu dengan tatsuya karna baginya tatsuya satu-satunya orang yang mau berteman dengannya. dia juga selalu melihat seseorang dari sudut pandang yang berbeda.

– Midori chiba = mii chan
Sahabat sekaligus teman masa kecil tatsuya. Menyukai tatsuya dari dulu, tapi keinginan untuk mengutarakan perasaannya selalu saja tidak dilakukannya. Sangat tomboy dan ceria, sangat cerewet terhadap tatsuya.

– Haru kurebayashi = haru kun
Teman sekelas tatsuya dan juga midori, selalu menaruh perhatian lebih terhadap midori karna dia menyukai midori pada pandangan pertama. Tidak terlalu suka terhadap tatsuya karna dia merasa tatsuya selalu menyakiti hati midori.

source: marchen von friedhof pandangan chaterine saat pertama kali bertemu tatsuya

source: marchen von friedhof
pandangan chaterine saat pertama kali bertemu tatsuya

chaterine yang sangat berharap akan di tolong oleh tatsuya

chaterine yang sangat berharap akan di tolong oleh tatsuya

1288298137_317454

bh

2011-09-30-441865

1288298160_282159

gh

Farewell Song [part 5]

Gambar

~ooo~

            Hari ini aku menyadari ada yang berbeda dengan midori dan haru, kali ini mereka tampak lebih akrab. Entah mengapa aku merasa senang melihat keakraban mereka berdua. Aku kembali memikirkan apa yang dikatakan chaterine kemarin. “apakah midori menyukaiku? Tapi kenapa aku merasa senang saat dia terlihat bahagia bersama haru?apa aku tidak ingin kalau midori itu menyukaiku?” saat sedang memikirkan itu semua tiba-tiba aku di kagetkan oleh kedatangan midoei dan haru di hadapanku.

“taa kun, apa hari ini kau akan menemui chaterine?” Tanya midori.

Aku hanya mengangguk. “yah, seperti biasa.”

“bolehkah kami ikut? Aku juga ingin meminta maaf padanya.” Kata midori lagi sambil memohon.

“tentu saja. Chaterine pasti senang dengan kedatangan kalian.” Kataku sambil tersenyum. Aku tahu kalau chaterine ingin sekali mempunyai banyak teman, pasti dia akan sangat bahagia kalau banyak yang ingin bertemu dengannya.

Pulang sekolah kami langsung ke rumah chaterine. Dia tampak senang melihat kedatanganku serta midori dan haru.

Chaterine masih tiduran di ranjangnya, kali ini dia tampak lebih pucat dari kemarin saat aku bertemu dengannya.

“chaterine, aku minta maaf atas kejadian kemarin.” Kata midori memulai percakapan. “dan perkenalkan, namaku midori chiba, panggil saja midori atau mii chan seperti taa kun memanggilku. Dan maaf kemarin aku tidak menjawab uluran tanganmu.” Kata midori sambil mengulurkan tangannya.

“daijoubu mii chan.” Kata chaterine dengan suaranya yang dibuat seimut mungkin saat mengatakan kata “mii-chan” sambil tersenyum yang sangat manis. Lalu dia pun menjabat tangan midori. “umm.. bolehkah aku bicara berdua dengan midori saja?” kata chaterine sambil menatap 2 pemuda yang ada di dekatnya.

Midori hanya heran dengan permintaan chaterine, aku dan haru pun keluar kamar menuruti permintaan chaterine.

Kini tinggal chaterine dan midori yang berada di dalam kamar itu. “apa kau menyukai tatsuya kun” Tanya chaterine pada midori secara langsung.

“a-apa maksudmu? Kenapa kau bertanya begitu?” kata midori panik dengan wajah merah.

“terlihat jelas saat pertama kali kita bertemu. Kau terlihat sangat cemburu melihatku bersama tatsuya kun.” Kata chaterine sambil tersenyum.

“ne, tapi aku tidak punya harapan padanya.”

“nande?” Tanya chaterine tak mengerti. “kukira kalian saling menyukai, tapi karna tatsuya kun kurang peka makanya dia tidak menyadari perasaanmu.”

“tidak, dia tidak menyukaiku. Bahkan mungkin tidak pernah. Dia hanya menganggapku teman masa kecil yang cerewet dan menyebalkan.” Kata midori sambil melihat ke arah piano di dekat jendela. “dia memang tidak peka, tapi dia telah menyukai orang lain…”

“dare?”

“kau… chaterine. Dia menyukaimu.” Kata midori sambil menatap chaterine.

“apa…” kata chaterine tercengang.

Midori hanya tersenyum. “ternyata kalian sama saja. Sama-sama tidak peka. Kau malah lebih peka terhadap orang lain dari pada orang lain kepada dirimu.. chaterine.” Batin midori saat melihat chaterine yang masih sibuk mencerna kata-katanya menurutnya. “kalau begitu aku akan membukakan pintu agar mereka masuk ya.” Kata midori lagi sambil membuka pintu kamar.

Sementara itu di ruang tamu, kami sibuk memikirkan apa yang mereka bicarakan di dalam. “hei, gadis itu cantik sekali. Pasti kau jatuh hati padanya kan?” kata haru menggodaku.

“apa yang kau bicarakan?” kataku heran pada haru.

Dia hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaanku tadi. Lalu tidak lama pintu kamar chaterine dibuka dan midori menyuruh kami untuk masuk ke kamarnya. Kami pun berbincang-bincang bersama-sama.

Saat hendak pulang, chaterine menahanku. Midori dan haru lalu keluar meninggalkan kami berdua di kamar. “tatsuya kun, besok libur bukan? Datanglah ke rumahku lebih cepat. Aku ingin ke taman itu sekali lagi bersamamu, dan juga ada yang ingin ku tunjukkan besok padamu.”

Aku hanya mengangguk sambil memikirkan apa yang ingin di tunjukkan oleh chaterine. “baiklah.”

“dekatkan telingamu.” Kata chaterine lagi, aku lalu mendekatkan telingaku padanya. Dia lalu berbisik. “besok kita akan kencan.”

Pipiku langsung merah saat mendengar kata-katanya. Dia hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya. Lalu aku pulang dengan jantung yang berdegup kencang menunggu hari esok.

~ooo~

            “mereka sudah pulang? Tampaknya hari ini kau senang sekali.” Kata ibu chaterine saat menghampiri anaknya.

“ibu, bolehkah aku bermain piano besok?”

Ibunya langsung menatap chaterine dengan pandangan tidak suka sambil mengernyitkan dahi.

“ayolah bu.. sekali ini saja.. aku akan memainkannya untuk terakhir kalinya.” Kata chaterine lagi sambil memelas ke ibunya.

“baiklah. Kau janji hanya sekali ini kan?”

“tentu saja. Arigatou bu.” Kata chaterine sambil memeluk ibunya. “tapi aku punya satu permintaan….”

~ooo~

Keesokan harinya aku datang kerumahnya. Aku telah mengatakan pada okaa san kalau akan pulang terlambat, dan okaa san tidak mempermasalahkan akan itu. Aku juga membawa sekuntum bunga ranunculus untuknya. Aku membunyikan bel rumahnya dan tidak lama kemudian pintu pagar rumahnya pun terbuka. Aku tidak menyangka bahwa yang akan membuka pagar adalah dia, bukan ibunya seperti biasa.

Aku melihat dia begitu cantik hari ini. Wajahnya lebih segar di banding saat kemarin. Dia mengenakan mini dress putih selutut dan pita putih menghiasi rambutnya yang indah. Dia terlihat bagaikan bidadari yang sangat anggun.

“tatsuya kun, kau tampan sekali hari ini.” Katanya melihat penampilanku dari atas sampai ke bawah.

“seharusnya aku yang berkaa begitu padamu.” Kataku sambil tersipu malu. “kau terlihat sangat cantik.” Kataku lagi. “oh iya aku hampir lupa, ini bunga untukmu.” Aku memberikan bunga yang sedari tadi kupegang kepada chaterine.

“bunga ranunculus, arti bahasa bunganya yaitu kau mempesona. Ternyata aku tidak salah memilihnya. Bunga ini cocok untukmu.” Chaterine mengambil bunga ranunculus pink itu dari tanganku dengan wajah yang tersipu malu.

“arigatou.” Katanya lagi, sambil menciumi bunga yang aku berikan. “ayo kita pergi, ada sesuatu yang akan kutunjukkan padamu.” Chaterine pun menarik tanganku dan berjalan dengan riang ke tempat yang paling kusukai di dunia ini.

Sesampainya di taman rahasia, aku tercengang melihat pemandangan yang ada di depanku. Sebuah piano putih terletak di dekat pohon sakura dan piano itu di hiasi oleh bunga-bunga berbagai macam warna. Aku melihat sebuah bunga anemone merah tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengambil bunga itu dan kusimpan tanpa sepengetahuan chaterine.

“kenapa piano putihmu ada disini?” tanyaku heran.

“kemarin aku meminta tolong pada ibu agar membawakan piano itu kesini karna aku ingin memainkannya.”

“bukannya kau tidak di perbolehkan untuk bermain piano lagi oleh ibumu?’

“untuk kali ini ibu mengizinkanku. Ini juga yang terakhir kalinya aku bermain piano, makanya ibu mengizinkanku.” Kata chaterine sambil tersenyum. Aku merasakan perasaan tidak enak saat mendengar chaterine bicara begitu.

“oh ya, aku ingin memainkan piano dan sebuah lagu khusus untukmu. Teman pertamaku yang berharga.” Kata chaterine sambil duduk di kursi pianonya. “kau harus mendengarkan sebaik mungkin karna aku tidak akan menyanyikannya lagi untuk yang kedua kalinya.” Kata chaterine lagi sambil mulai melakukan pemanasan terhadap jari tangannya.

“chooto.” Kataku sambil meraih sesuatu di dalam kantong celanaku.

“ada apa?” tanyanya heran.

“tidak ada, abaikanlah.” Kataku sambil memencet tombol rekaman di keitaiku tanpa sepengetahuan chaterine.

Dia pun mulai memainkan pianonya sambil bernyanyi. Tak kusangka suaranya begitu merdu, sangat indah. Kali ini suara dentingan pianonya berbeda dari yang biasa aku dengar. Tidak lagi menyedihkan, tapi lantunan lagunya kali ini sangat indah dan membahagiakan.

Aku terpana melihatnya. Dia sangat cantik. Begitu indah. Dengan parasnya yang cantik bagai boneka itu, dan gaunnya yang putih, juga saat dia memainkan piano putihnya, juga suaranya yang sangat merdu. Aku merasa seperti melihat seorang bidadari yang sangat cantik sedang memainkan piano menyanyi khusus untukku.

Setelah menyelesaikan permainan pianonya, chaterine memandangku sambil tersenyum. Aku berjalan mendekatinya lalu memberikan bunga anemone merah yang tadi kupungut kepadanya.

“anemone merah?” tanyanya.

“ne, bahasa bunganya aku mencintaimu.” Kataku sambil tersenyum. Aku sudah tidak dapat menahan perasaanku lagi padanya.

Chaterine hanya diam sambil tertunduk. Dia tidak menerima bungaku.

“kenapa?” tanyaku penasaran.

“waktuku tidak banyak. Aku tidak bisa.. gomen.”

Hatiku sakit mendengarnya. Juga saat menyadari kenyataannya. “aku tahu.. tapi bolehkah aku meminta kalau kau harus membuang kenyataan itu dan jujur pada dirimu sendiri kalau kau juga menyukaiku? Kalau kau tidak menyukaiku, kau harus membuang bunga ini.”

Chaterine hanya diam, masih dengan kepala tertunduk.

“chaterine?”

Chaterine menatapku dan berkata “kimi ga suki” dia mengambil bungaku lalu memelukku erat. Aku tidak percaya dengan apa yang terjadi, tapi aku senang karna dia mau menerima bunga dariku.

~ooo~

Kamipun duduk di kursi kayu dekat pohon sakura sambil memandang telaga di depan kami. “kau tahu, kau adalah orang pertama yang kuajak kemari.” Kataku pada chaterine.

“benarkah? Kenapa kau tidak mengajak midori? Kalian kan teman masa kecil.”

Aku menggeleng. “entahlah, aku merasa kalau midori bukan orang spesial bagiku untuk kuajak kesini.” Kataku sambil tersenyum kearahnya. “aku senang kau juga menyukaiku. Ini kencan pertama yang sangat berkesan.” kataku senang.

Dia juga ikut tersenyum. “kenapa piano putihmu ada disini?” tanyaku heran.

“kemarin aku meminta tolong pada ibu agar membawakan piano itu kesini karna aku ingin memainkannya.”

“bukannya kau tidak di perbolehkan untuk bermain piano lagi oleh ibumu? dan kenapa kau tidak menunggu sampai hari rabu saja sehingga tidak merepotkan ibumu bukan?”

“aku tidak bisa menunggu sampai hari rabu. Makanya untuk kali ini ibu mengizinkanku. Ini juga yang terakhir kalinya aku bermain piano, makanya ibu mengizinkanku.” Kata chaterine sambil tersenyum. Aku merasakan perasaan tidak enak saat mendengar chaterine bicara begitu.

Aku diam. Lalu dia menatapku. “ada apa?”

“bukan apa-apa. Aku hanya ingin lebih lama bersamamu.” Kataku lagi.

Akhirnya kami menghabiskan waktu untuk mengobrol dan bercanda. Saat sore menjelang, aku pun mengantar chaterine pulang ke rumahnya.

“tatsuyakun, ada satu lagi yang ingin kutunjukkan padamu. Tunggulah disini.” Aku menuruti permintaannya sambil menunggu di ruang tamu rumahnya. Tidak beberapa lama dia pun keluar dari kamarnya dan turun dari tangga menuju ke tempatku.

Aku terkejut melihatnya sekaligus terpana. Dia mengenakan gaun pengantin yang sangat indah. “aku ingin sekali memakai baju ini. Ibu bilang ini baju yang akan aku pakai jika aku menikah nanti, tapi aku tidak bisa menunggu selama itu. Makanya kali ini aku akan memperlihatkannya padamu. Aku juga telah berdandan, bagaimana menurutmu? Apakah aku cantik?” katanya sambil tersenyum.

Tiba-tiba saja aku meneteskan air mataku. “ya, kau sangat cantik, tanpa berdandan pun kau juga sangat cantik. Makanya aku terpesona dan tergila-gila olehmu.” Kataku sambil berjalan ke arahnya, lalu akupun memeluknya. Dia kaget dengan tindakanku yang tiba-tiba ini. “tolong biarkan aku memelukmu lebih lama.”

Aku merasa kalau aku tidak akan bertemu dengannya dan tidak akan bisa menyentuhnya lagi setelah ini. Maka aku memeluknya dengan erat untuk waktu yang agak lama.

“hei, jangan membuatku juga ikut menangis dan melunturkan riasanku ini.” Katanya lagi.

Akupun melepaskan pelukanmu darinya. Aku menatapnya. “boleh kufoto? Kau tampak sangat cantik, saying sekali bila tidak di abadikan.”

“tentu saja. Aku akan menyuruh pembantuku untuk memotret kita berdua, sayang kan kalau orang yang kucintai tidak ikut berfoto denganku.”

Aku tersenyum, lalu aku berfoto dengannya layaknya seperti orang yang telah menikah. Aku menggendongnya dan dia memeluk leherku. Aku benar-benar bahagia.

~ooo~

            Keesokan harinya aku mendapat kabar bahwa chaterine telah tiada saat aku kerumahnya bersama midori dan haru yang ikut denganku sepulang sekolah. Orang-orang di rumahnya sedang mempersiapkan acara pemakamannya. Aku diperbolehkan untuk memberikan salam terakhir untuknya.

Aku mendekati peti matinya sambil membawa setangkai bunga tulip dan meletakkan kedalam peti matinya. “bunga tulip yang artinya selamanya aku mencintaimu.”aku memperhatikan wajah chaterine yang bagaikan putri tidur yang akan terbangun saat pangeranya datang. Tapi dia merupakan putri tidur yang berbeda. Walau pangerannya datang, dia tidak akan pernah bisa bangun lagi untuk selamanya. “aku sudah tahu hari ini akan datang. Terima kasih untuk pernah datang di hidupku. Kau benar-benar pianis yang handal dan juga penyanyi yang hebat. Terima kasih karna telah menerima cintaku, dan terima kasih atas kencan special kita yang kemarin. Aku tak akan pernah melupakannya. Selamat jalan my angel, semoga di kehidupan yang lain kita bisa bertemu kembali.”

Aku mengikuti proses pemakamannya sampai akhir diikuti oleh midori dan juga haru, okaa san juga datang karna aku memberitahu kalau dia baru saja meninggal pagi tadi.

Saat proses pemakaman telah selesai, haru menarik tangan midori dan menatapnya dengan wajah serius. “chaterine telah pergi, sekarang? Apa kau akan memilih tatsuya?”

“apa maksudmu? tentu saja tidak, lagian dia kan tidak menyukaiku.” Kata midori tidak mengerti. Ada raut kecemasan yang di lihatnya di wajah haru.

“kalau pada suatu hari dia menyukaimu dan menyatakan perasaan padamu, apa kau akan menerimanya?”

“sudah pasti pada saat itu aku telah menyukaimu.” Kata midori lagi sambil tersenyum meyakinkan. Lalu mereka berdua berjalan pulang dari pemakaman chaterine.

~ooo~

            Aku heran, aku tidak menangis seperti orang-orang yang ada disini lakukan. Aku merasa aku telah mengetahui kalau hari ini dia akan pergi, mungkin karna dia telah meninggalkan beberapa pesan padaku kemarin. Aku juga lega karna dia telah terlepas dari rasa sakitnya selama ini.

            Aku mengambil keitaiku lalu kupasang earphone di telingaku. Aku menekan replay pada keitaiku. Aku mulai mendengar suara chaterine yang lembut mengalun di telingaku. “kalau dia tahu aku merekamnya, dia pasti akan marah.. hahaha. Tapi hanya ini kenangan dan bukti cintamu yang tertinggal untukku” batinku sambil berjalan pulang.

~the end~

36560_462512883763045_100000130132874_1948470_1378014339_n (2)

Farewell Song [part 4]

409707_417940758243205_904789722_n

Keesokan harinya sewaktu pulang istirahat midori berjalan ke arahku. “gomennasai.” Katanya.

            “sudahlah.. seharusnya aku yang meminta maaf.” Kataku agak menyesal. “aku tidak jujur kepadamu.”

            Kemudian hening beberapa saat. Lalu midori bertanya kepadaku. “apa kau menyukai gadis itu?”

DEG!!

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” kataku kaget.

“aku hanya penasaran…” katanya pelan. Aku hanya diam, bingung dengan perasaanku sendiri. Midori masih menatapku. “diam berarti jawabannya iya kan?” katanya sambil tersenyum lalu berjalan kembali ke bangkunya. Di saat yang sama kami tidak menyadari kalau ada seseorang yang menguping pembicaraan kami tadi.

            Aku kembali memikirkan pertanyaan midori tadi dan bertanya-tanya pada diriku sendiri tentang perasaanku sesungguhnya terhadap chaterine. “sepertinya aku memang menyukainya.” Batinku samil memegang dada.

~ooo~

            Kali ini midori tidak mengajakku pulang bersama, aku heran tapi aku tidak memusingkan hal itu. Seperti biasa hari ini aku akan ke rumah chaterine, aku harap dia tidak apa-apa sekarang.

            Aku memencet bel rumahnya dan seperti biasa ibunya yang membukakan pagar. Aku dipersilahkan masuk dan berjalan ke kamarnya, aku membuka kamar chaterine, kulihat chaterine di atas tempat tidur, dia duduk bersandar dengan beberapa bantal sebagai alasnya. Dia tersenyum saat melihatku masuk.

            “aku senang kau kesini lagi hari ini.” Kata chaerine lemah.

            “kau tidak apa-apa? Kau tampak agak pucat.” Kataku khawatir.

Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. “gadis yang kemarin siapa? Pacarmu?” tanyanya lagi.

Aku kaget dengan pertanyaannya. “tidak, dia hanya sahabatku.” Kataku menjelaskan.

“benarkah?” Tanya chaterine dengan nada tidak yakin.

“ne, dia hanya teman masa kecilku.” Kataku menegaskan lagi padanya.

“tapi sepertinya dia menyukaimu.”

“haha… itu tidak mungkin. Dia selalu cerewet padaku dan itu sangat menyebalkan.”

Chaterine tersenyum lagi. “sebaiknya kau memikirkan lagi, dan kau harus lebih peka.”

Aku hanya diam mendengar kata-katanya itu. Terlalu banyak pertanyaan aneh yang mengganggu pikiranku. Tapi sekarang aku tidak mau terlalu memusingkan itu, aku ingin hari-hariku bersama chaterine berjalan menyenangkan tanpa ada pikiran aneh yang menggangguku.

“kau pasti sudah tahu penyakitku kan?” tiba-tiba saja chaterine bertanya lagi yang membuatku makin bingung dengan semua pertanyaannya.

“kenapa kau berkata begitu?” kataku heran.

“habis kau tidak menanyaiku apa-apa saat melihat kondisiku yang seperti ini.”

“iya ya, aku terlalu bodoh sehingga aku lupa kalau harus berpura-pura tidak mengetahui apa-apa tentang penyakitnya.” Batinku. “iya, aku telah lama mengetahuinya.” Kataku sambil menunduk, berharap dia tidak marah.

“tidak apa-apa.” katanya lagi. Kemudian hening, suasana menjadi kikuk.

“kenapa kau tidak di operasi saja?”

“sum-sum tulang belakang tidak ada yang cocok bila di donorkan denganku karna golongan darahku mempunyai rhesus yang langka. Lagian aku tidak mempunyai saudara, sehingga tidak ada harapan bagiku untuk sembuh. Sekarang aku hanya bertahan dengan obat-obatan penghilang rasa sakit yang di berikan dokter padaku. Aku hanya tinggal menunggu kapan waktunya aku akan pergi.”

“benarkah?” dadaku merasa sesak saat mendengar kata-katanya. Aku tidak ingin dia pergi. “lalu apakah permainan pianomu yang selama ini kudengar yang terasa sangat menyedihkan dan menyayat hati itu merupakan luapan perasaanmu?”

“ne..” ucapnya pelan. Kemudian hening lagi untuk beberapa saat.

Aku meraih tangannya. “kalau begitu bolehkan aku menemanimu sampai waktu itu tiba?” kataku lagi sambil memandangnya lekat-lekat.

Dia terpana melihatku lalu tersenyum senang. “tentu saja. Aku akan senang sekali.” Katanya bahagia sambil meneteskan air mata.

Karna banyak kenyataan yang aku terima secara langsung akhir-akhir ini, aku pun pamit kepada chaterine lebih cepat dari waktu yang biasa kuhabiskan bersamanya. Untung saja dia tidak bertanya apa-apa.

Aku tidak langsung pulang ke rumah, tapi aku pergi ke tempat rahasia yang sering kukunjungi kalau ada masalah dulu. Aku duduk di bangku kayu itu sambil melihat angsa-angsa yang bermain air disana. Aku duduk melamun seorang diri untuk beberapa saat. Tanpa kusadari air mataku mengalir begitu saja.

Tiba-tiba keitaiku berbunyi, dari okaa san. Aku pun mengangkatnya. “moshi moshi.” Kataku dengan suara agak serak.

“tatsuya, kau sedang dimana? Kau pulang terlambat lagi.” Kata suara okaa san di seberang sana.

“maafkan aku okaa san.” Kataku masih dengan suara serak karna habis menangis.

“ada apa dengan suaramu? Apa kau baik-baik saja?” kata okaa san khawatir.

“aku tidak apa-apa, maaf okaa san bolehkan beri waktu aku sebentar lagi saja? Nanti aku akan menceritakan semuanya.” Aku masih ingin duduk menyendiri disini dan berharap okaa san dapat mengerti aku.

“baiklah kalau itu maumu.” Kata okaa san sambil menutup teleponnya.

“makasih okaa san.” Aku sangat beruntung karna okaa san memperbolehkanku pulang terlambat kali ini.

~ooo~

            Midori pulang dengan langkah gontai sendirian menuju rumahnya. Tanpa disadarinya, dia berjalan dengan arah yang berbeda dari rumahnya, yaitu melewati rumahnya chaterine. Dia bingung kenapa dia harus melewati jalan itu. Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang.

            “haru kun?” kata midori kaget.

“Kenapa kau lesu begitu? Ini es krim untukmu.” Haru mengambil 2 buah es dari dalam kantong yang di bawanya dari supermarket dan memberikan 1 untuk midori. “tumben sekali kau melewati jalan ini. Ada apa?”

Midori hanya diam sambil memakan es yang di berikan haru. “dia menyukai gadis lain. Gadis itu begitu cantik.” Kata midori dengan mata berkaca-kaca.

“sudahlah…” haru pun memeluk midori sambil menepuk pundaknya beberapa kali dan mengelus kepala midori. Midori pun menangis di dalam pelukan haru.

Midori menangis tidak terlalu lama, lalu dia mengajak haru berjalan ke suatu tempat. “ini rumah gadis itu.” Midori menunjuk rumah chaterine cepada haru. “Pantas saja waktu itu kita beremu dengan tatsuya sepulang karaoke di dekat sini.”

“aku tahu kok, aku tidak sengaja menguping pembicaraan kalian tadi. Tapi jujur aku merasa senang, karna ada kesempatan bagiku.” Kata haru tersenyum.

“apa maksudmu?” Tanya midori heran.

“aku.. aku sudah lama menyukaimu. Tapi aku tidak pernah bias mengungkapkan perasaanku karna kau telah menyukai tatsuya. Mungkin aku memang jahat, tapi aku senang saat tahu tatsuya telah menyukai gadis lain.” Kata haru akhirnya mengaku.

Midori hanya diam. Dia masih berusaha mencerna apa yang terjadi di otaknya. “jadi selama ini orang yang kau sukai itu aku?” Tanya midori tidak percaya.

Haru hanya mengangguk.

“tapi kenapa kau selalu menyuruhku agar tidak menyerah terhadap tatsuya? Apa karna kau tahu kalau aku tak ada harapan?” kata midori dengan nada agak marah.

“tidak, bukan begitu, kau salah paham.. aku menyemangatimu demi kebaikanmu. Kalau cinta harus di perjuangkan. Kalau kau bahagia, aku pun juga akan bahagia.”

Midori hanya tersenyum mendengarnya. “baiklah, aku akan mencoba untuk menyukaimu juga. ayo kita pulang.” Lalu dia pun memegang tanganharu dan berjalan pulang.

~ooo~

            “tadaima..” kataku pelan saat memasuki rumah.

            “Okaerinasai” kata okaa san menghampiriku. “ada apa denganmu? Kenapa tampangmu kusut begitu?”

Aku langsung memeluk okaa san. “tatsuya…” gumam ibu bingung. Sebaiknya kau mandi dan makan, lalu ceritakan pada ibu apa yang terjadi.

Aku menuruti semua perintah ibu, setelah makan dan mandi aku masuk ke kamarku, tak lama setelah itu okaa san masuk dan duduk di sampingku. “nah, apa yang terjadi?”

“okaa san ingat kenapa aku terlambat kemarin?”

“karna kau mengantar temanmu yang sakit kan?

“dia baru saja pindah kesini sebulan yang lalu. Tiap rabu sore aku selalu mendengarkan suara piano dari rumahnya. Suara piano itu begitu indah tapi sangat menyayat hati. Secara tidak sadar aku memasuki rumahnya dan berkenalan dengannya serta keluarganya. Dia gadis yang sangat cantik okaa san.”

“apa kau menyukainya?” kata okaa san menyelidik.

“aku baru menyadari perasaanku ini tadi saat midori menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang okaa san tanyakan tadi.”

“lalu apa yang terjadi?”

“dia mengidap kanker leukemia stadium akhir dan tidak dapat disembuhkan.” Aku menunduk. Menahan perasaan sesak ini. Melihatku seperti itu Okaa san lalu memelukku. “aku tidak ingin dia pergi kaa san. Aku.. aku ingin dia terus hidup sehingga aku dapat bersamanya terus.” Kataku dengan suara serak. Kali ini aku tidak bias lagi membendung air mataku. Aku menangis di dalam pelukan okaa san.

Okaa san tidak berkata apa-apa, beliau hanya menyabarkankanku dengan mengusap-usap punggungku dan memelukku dengan sayang dan penuh kehangatan. Aku merasa agak lega karna telah menceritakannya kepada okaa san.

335686

Farewell Song [part 3]

midori yang patah hati

“taa kun… hari ini kita pulang bareng yuk” ucap midori keesokan paginya.

“maafkan aku midori, aku ada urusan.” Ucapku.

“kau tidak ingin pulang bareng ya? Kalau begitu, aku akan membuntutimu. Aku yakin kau pasti akan kerumah itu lagi. Hahaha… (devil mode on)” ujar midori dalam hati.

“midori chan, pulang nanti kau harus mengikuti pelajaran tambahan” ucap haru.

“ha? Kenapa?

“tadi aku habis dari ruang guru, dan sensei miwa memanggilku. Dia menyuruhku agar mengatakan kepadamu kalau kau harus mengikuti pelajaran tambahan pulang sekolah..” ucap haru panjang lebar.

“tapi kenapa?”

“ulangan matematika kemarin kau dapat berapa?” ujarku.

“kalau tidak salah dapat 50.. chotto… jangan-jangan…”

“kau seperti tidak tahu sensei miwa saja, kalau nilai ulangan kita rendah pasti hukumannnya belajar tambahan.” Ucapku.

“lalu kau dapat berapa?”

“seperti biasa 100..” ujarku menyombongkan diri.

“aisshh.. percuma aku menanyakannya padamu. Haru kun kau dapat berapa kemarin? Dan siapa saja yang ikut pelajaran tambahan?”

“kemarin aku dapat 80… mungkin hanya kau sendiri saja yang ikut, tadi sensei hanya menyebutkan namamu saja.” Ujar haru.

“apa?? Tidak.. bertambah penderitaanku” teriak midori histeris berlebihan yang mengakibatkan beberapa anak dikelas memperhatikannya.

“dia kenapa? Kenapa sebegitu histerisnya? Aneh..” tanyaku pada haru. Dan haru pun hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.

“gawat.. kalau aku ikut pelajaran tambahan ini pasti akan lama, dan aku tidak akan bisa membuntuti tatsuya. Walaupun aku pergi kerumah itu tentu saja tatsuya sudah pulang” batin midori.

~ooo~

“akhirnya pulang juga.” Ujarku sambil bergegas mengambil tas dan langsung keluar kelas. “untung saja midori ikut pelajaran tambahan, jadi dia tidak akan mencegatku kali ini. Dan aku bisa kerumah chaterine lebih cepat.”

Sesampai dirumah chaterine, aku memencet bel rumahnya dan tidak lama keluarlah ibunya.

“ah, tatsuya kau datang lebih cepat dari kemarin. Ayo silahkan masuk..” sapa ibunya hangat.

“arigatou, chaterine ada kan bu?” kataku sambil memasuki rumahnya

“tentu saja, dia ada dikamarnya sekarang. Ibu senang kau datang dan dia pun pasti juga sangat senang bila bertemu denganmu.” Ucap ibunya lagi.

Aku pun pergi kekamarnya dan mengetuk pintu kamarnya dan tidak lama dia pun membuka pintu kamarnya. “tatsuya, silahkan masuk.” Ucapnya sambil tersenyum.

“arigatou” ucapku dan duduk di sofa yang ada dikamarnya. “apa selama ini kau selalu di dalam kamar? Eh, maaf maksudku apa kau ingin ikut bersamaku?”

“kemana?”

“aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat yang sangat bagus di sekitar sini, aku yakin kau pasti akan suka.”

“hmmm… aku akan coba Tanya okaa san dulu ya”

Kami pun turun dan meminta izin kepada ibunya chaterine agar dia diperbolehkan pergi bersamaku.

“baiklah, tapi jangan lama-lama dan jangan pergi ke tempat yang jauh ya.” Kata ibunya agak khawatir.

“wakatta..” ujar kami serempak.

Akhirnya kami sampai ke sebuah tempat yang tidak jauh dari rumahnya.

“kita sampai…” kataku.

“apa kita akan bermain di tempat yang penuh dengan semak-semak?” ujar chaterine heran.

“jangan lihat dari penampilannya dulu. Ayo ikut aku.” Ujarku sambil menarik tangannya.

Kami masuk ke sebuah semak-semak. Dan tidak lama kami keluar dari semak-semak itu dan terlihatlah sebuah pemandangan yang memukau.

“wah… shugoi… kawai ne…” ucap chaterine tercengang.

Tempat ini tidak diketahui oleh orang banyak. Dibalik semak semak itu terdapat sebuah taman dan ditengahnya ada danau kecil. Di danau itu terdapat banyak angsa yang berenang dengan anggunnya. Disisi danau ada sebuah pohon sakura yang sedang mekar dan terlihat sangat cantik, dan dibawahnya ada sebuah bangku taman.

“bagaimana? Indah bukan? Kau suka tidak?”  ujarku sambil mengajaknya duduk di bangku itu.

“ne, indah sekali..” ucap chaterine berdecak kagum dengan mata yang berbinar-binar.

“aku senang kalau kau menyukainya. Sudah lama aku tidak kesini… Ini adalah tempat yang sangat kusukai” ucapku sambil mengenang masa lalu.

“benarkah? Tapi kok sepi ya? Apa tempat ini tidak diketahui oleh orang lain?”

“orang lain itu sama sepertimu, hanya melihat dari luarnya saja. Kalau mereka melihatnya ke dalam, mereka pasti akan menyukainya. Kalau itu sampai terjadi, tempat ini pasti akan sangat ramai dan mungkin juga akan kotor oleh sampah… biarlah tempat ini tetap tersembunyi.”

Chaterine menyandarkan kepalanya ke bahuku “tempat ini sungguh indah dan juga tenang… aku benar-benar merasa nyaman disini.”

Lalu untuk beberapa saat kami tetap seperti ini. “chaterine, sepertinya kita sudah lumayan lama disini, aku takut ibumu akan marah dan mencarimu kalau kita masih disini.” Ujarku.

Chaterine lalu mengangkat kepalanya dari bahuku. “ya, kau benar… ayo kita pulang.” Ucapnya.

~ooo~

“untunglah sensei miwa sedang berbaik hati sekarang sehingga menyuruhku pulang lebih cepat… kalau aku lebih lama lagi di kelas itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi lagi padaku… aku pasti sudah tewas.” gerutu midori dalam perjalanan.

Dia pun pulang dengan langkah gontai, tiba-tiba terbesit di kepala midori kalau dia ingin ke rumah yang kemarin dilihatnya. Saat sedang menuju rumah itu, midori melihat tatsuya tapi dia tidak sendiri melainkan bersama seorang gadis. “siapa gadis cantik itu? Apa dia pacarnya taa kun? Kenapa perasaanku tidak enak ya melihatnya?” batin midori sambil merasakan sakit di dadanya. Dia pun bergegas menuju ke arah tatsuya dan gadis itu.

“taa kun..” panggilnya.

“midori? Sedang apa kau disini?” tanyaku kaget.

“siapa dia?” Tanya midori sambil menatap chaterine dan mengabaikan pertanyaanku tadi.

“dia teman baruku, chaterine.” Kataku sambil mengenalkan chaterine pada midori.

Chaterine pun mengulurkan tangannya ke arah midori. “aku chaterine. Katanya sambil tersenyum.”

Midori tidak menjawab uluran tangan itu. Dia tetap diam di tempatnya seperti sedang memikirkan sesuatu. “jadi ini alasan kau selalu tidak mau pulang bersamaku?” katanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan dengan ekspresi yang sedih seperti dia sedang menahan perasaannya.

Aku kaget melihatnya yang seperti itu. “aa.. gomennasai.” Kataku tidak tahu harus berkata apa lagi.

Chaterine menurunkan tangannya lagi dan menatapku. Lalu dia mengulurkan tangannya berusaha meraihku. “tasuya kun aku…” tiba-tiba saja chaterine jatuh pingsan.

“chaterine…” kataku panik. Aku segera meraih tubuhnya agar tidak jatuh ke jalan. Aku langsung menggendongnya dan berlari ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berdiri tadi diikuti oleh midori di belakangku yang juga terlihat panik.

Sesampai di depan rumah chaterine, aku meminta tolong pada midori untuk memencet pagar rumahnya agar segera di bukakan. Setelah pagar rumah di buka, ibunya tampak kaget saat melihat aku yang mengendong chaterine yang sedang pingsan. Aku langsung membawanya ke kamarnya dan ibunya langsung memanggil dokter.

Sambil menunggu dokter datang dan memeriksa chaterine, ibunya tidak berkata sepatah kata pun padaku. Aku takut beliau marah padaku. Kulihat midori juga masih terlihat kaget dan dia tetap menunduk.

“bagaimana keadaannya?” kata ibu chaterine setelah dokter selesai memeriksa kondisi chaterine.

“anda tidak usah cemas, sekarang keadaannya sudah agak membaik. Dia cuma merasa sakit dan sepertinya ada tekanan batin pada dirinya.” Kata dokter lagi menenangkan kondisi ibu chaterine.

“tekanan batin?” kata ibu chaterine lagi. Lalu dia memandang ke arahku.

“mungkin itu karna aku.. maafkan aku..” kata midori yang berada di sampingku sambil tertunduk menyesal.

“sebenarnya apa yang terjadi?” kata ibu chaterine masih tidak mengerti.

Lalu midori pun menceritakan awal permulaan mereka bertemu tadi. Ibu chaterine hanya mengangguk-angguk dan terlihat agak tenang. “ibu mengerti, tenang saja ibu tidak marah pada kalian kok.” Kata ibu chaterine lagi sambil tersenyum ke arah midori serta ke arahku.

“oh astaga, sudah jam 7. Ibu pasti marah kepadaku karna aku pulang terlambat.” Kataku panik. Lalu aku pamit kepada ibu chaterine lalu bergegas pulang.

“tatsuya kun, tunggu..” kata midori saat aku akan memasuki rumahku. “biarkan kali ini aku menjelaskan pada ibumu kenapa kau terlambat pulang.” Kata midori sambil berjalan ke arahku. Aku hanya mengangguk pelan.

Aku membuka pintu rumahku dan dengan jantung yang agak berdebar dan sedikit takut aku akan bersiap menanti kemarahan yang ada di balik pintu.

“tatsuya! Kau tahu ini sudah jam berapa? Kenapa kau begitu terlambat pulang? Kau tahu, ibu sangat mencemaskanmu.” Kata okaa san marah sewaktu kami masuk rumah.

“maafkan aku bibi, ini semua gara-gara aku, makanya tatsuya pulang terlambat.” Kata midori membelaku.

“apa maksudmu?” Tanya okaa san tidak mengerti

“gara-gara ucapanku teman tatsuya pingsan, lalu kami mengantarkannya pulang dan menunggunya dengan sabar.” Kata midori lagi sambil membungkuk menyesal. Melihat midori yang begitu okaa san pun menjadi tidak tega memarahinya.

“baiklah, okaa san maafkan, tapi kau jangan lupa untuk member kabar okaasan mu ini agar okaa sanmu tidak cemas.” Kata okaa san menatapku.

“arigatou okaa san.” Kataku sambil tersenyum lega, aku pun tersenyum ke arah midori sambil berterima kasih. Lalu midori pun pami dan pulang ke rumahnya.